Shalom Christian Youth,

Februari 10, 2009

 

Ada satu kerinduan bagi kami untuk turut juga ambil bagian dalam mempersatukan Generasi Muda Kristen melalui wadah blog ini. Blog ini kami buat sebagai tempat ngumpulnya kita-kita yang masih perduli dengan existensi dan pertumbuhan iman generasi muda kristen ditengah krisis iman dan degadrasi kasih di jaman ini. Teman-teman bisa berbagi informasi tentang kegiatan pelayanan, tips-tips, artikle, sharing, request doa, dll, yang semuanya bertujuan untuk saling membangun di dalam iman.

 

Sadar atau tidak, tidak bisa dipungkiri bahwa denominasi kadang-kadang menjadi jarak pemisah diantara anak-anak Tuhan, dan “memaksa” kita cenderung berjalan sendiri-sendiri dan tidak perduli dengan orang/denominasi yang lain. Harapan kami blog ini kelak bisa menjadi titik awal perwujudan fisik organisasi yang mempersatukan generasi muda kristen di daerah dan di Indonesia pada umumnya yang dapat melakukan pelayanan lintas denominasi.

 

So, Youth, Jangan sungkan-sungkan mengirim artikle-mu, tips-tips atau info-info yang lain. Kirim saja ke jgmkbatam@yahoo.com dengan menuliskan nama. Teman-teman juga bisa memberi komentar langsung di blog kita ini; https://jgmkbatam.wordpress.com

 

Meski penampilan blog ini masih sederhana, tapi inilah yang masih dapat kami buat. Semoga seiring berjalannya waktu, selanjutnya kita bisa bersama-sama membuatnya lebih bagus. Jadikan blog ini salah satu ladang pelayananmu. God Bless Us, Youth.

 

 

 

Iklan

BERKAT DALAM KERUKUNAN – 3

Februari 21, 2009

 

Seperti Embun Gunung Hermon.

 

Mazmur 133:3 “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Lihatlah contoh yang diberikan Daud ini, alangkah baik dan indahnya sebuah kerukunan. Di umpamakan seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung (bukit-bukit) Sion.

 

Gunung Hermon adalah gunung yang tinggi yang berada Libanon. Ia berada pada ketinggian sekitar 2800 m diatas permukaan laut. Hampir sepanjang tahun gunung ini bersalju yang menghasilkan embun yang tebal di sekelilingnya. Embun yang turun ke kaki gunung Hermon dan ke gunung-gunung atau bukit yang lebih rendah disekitarnya menghasilkan titik-titik air. Demikian gunung sion yang cenderung kering mendapat berkah dari embun dan air yang mengalir dari gunung Hermon.  Air dari gunung Hermon juga mengalir ke sungai Jordan dan berakhir di Laut Mati*.

 

Embun melambangkan berkat yang turun dari atas (tempat tinggi) mengalir ke tempat yang rendah.  Satu sisi bisa kita maknai ini sebagai berkat dari Tuhan kepada mereka yang merendahkan diri. Namun lebih daripada itu adalah bahwa dalam suatu komunitas yang rukun mereka yang berada di posisi atas akan menjadi berkat bagi mereka yang berada dibawah.

 

Mereka yang kuat akan memberkati yang lemah, yang dewasa menjadi berkat bagi yang belum dewasa, yang tua menjadi berkat bagi yang muda, yang kaya menjadi berkat bagi yang berkekurangan, yang berkhikmat menjadi berkat bagi mereka yang kurang berhikmat, yang berpengetahuan menjadi berkat bagi yang tidak berpengetahuan, dll. Tidakkah ini baik dan indah?

 

Namun harus kita akui, bahwa kerukunan hanya dapat dicapai apabila ada kasih yang senantiasa mendasari dan mengikat setiap orang. Kasih yang mengacu kepada kasih Allah yang murni.  Maka miliki kasih Allah, itu yang utama.

 

In Him,

St.LH

BERKAT DALAM KERUKUNAN – 2

Februari 19, 2009

 

Seperti Minyak Yang Baik

 

Mazmur 133:2 “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.“

 

Indahnya diam bersama dengan rukun, di gambarkan seperti minyak yang baik di atas kepala Harun.  Minyak yang dituangkan ke atas kepala Harun berbicara mengenai pengurapan saat pemilihan Harun menjadi imam (Kel. 30:30). Dalam hal ini Harun telah dikhususkan menjadi imam, pemimpin spiritual umat Israel. Ia menjadi perantara umat kepada Tuhan. Imam akan membawa persembahan mewakili umat kepada Allah, sekaligus mewakili Allah kepada umat untuk mengajari dan mengawal pelaksanaan prinsip-prinsip hukum Tuhan bagi bangsa Israel.

 

Kita harus ingat bahwa dalam PL, kesetiaan percaya dan kepatuhan memenuhi perintah Tuhan atau ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan, akan berimbas langsung kepada umat Israel. Kesetiaan dan kepatuhan akan membawa kemenangan melawan musuh-musuh dan berkat yang selalu tersedia, sedangkan ketidaksetiaan akan membawa kekalahan dan penderitaan. Dengan adanya imam, umat Israel secara terorganisir dan terpimpin akan beribadah kepada Tuhan. Kelangsungan hubungan spritual/rohani yang terus-menerus antara umat dengan Tuhan lewat peribadatan akan membawa berkat bagi umat Israel. 

 

Dalam kehidupan jaman kita ini, dapat kita maknai bahwa minyak yang baik adalah berkat rohani, urapan Roh Kudus  dari Allah yang diterima oleh mereka yang hidup dalam kerukunan dalam iman kepada Yesus. Berkat rohani yang menjadikan mereka menjadi orang-orang yang khusus dan terdepan dalam urusan rohani. Mereka yang hidup rukun akan memiliki kekuatan besar dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak saja mereka akan saling menopang dan membangun antara satu dengan yang lain lewat doa-doa serta nasehat dan motifasi yang  membangun tetapi juga dengan penggabungan potensi yang ada dalam komunitas yang rukun itu akan dapat menjangkau jiwa-jiwa lewat penginjilan dan pelayanan-pelayanan yang lain dan membawa jiwa-jiwa itu kepada Tuhan.    

 

Dalam konteks perjanjian baru, bahwa setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dirinya adalah menjadi imamat yang rajani (1 Petrus 2:9). Kita tidak lagi membutuhkan imam dalam konteks perjanjian lama sebagai pengantara antara kita dengan Allah. Kita diberi kuasa untuk berbicara langsung kepada Allah dan Allah berbicara kepada kita lewat Roh Kudus dan firman-Nya yang tertulis (Alkitab). Justru sebagai imamat yang rajani kita akan membawa keluarga, sahabat, rekan kerja, rekan pelayanan, jiwa-jiwa terhilang, dunia dan permasalahannya kepada Tuhan lewat doa syafaat kita. Dalam penginjilan umum dan penginjilan pribadi, imamat-imamat yang rajani yaitu kita yang percaya memiliki tugas membawa Tuhan kepada jiwa-jiwa terhilang sekaligus membawa jiwa-jiwa terhilang kepada Tuhan.

 

Yang luar biasa dari kehidupan orang-orang hidup dalam perjanjian baru, yaitu adanya otoritas yang dapat dimiliki oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan (bukan seperti dalam perjanjian lama dimana hanya orang-orang tertentu yang di pilih secara khusus), untuk melakukan perkara-perkara besar (Markus 16:17-18). Meskipun harus kita akui bahwa ada talenta-talenta khusus/berbeda yang diberikan kepada setiap orang, tetapi setiap orang memiliki kesempatan, bahkan untuk meminta talenta bagi dirinya sendiri (1 Kor. 12-14).

 

In Him

St.LH

BERKAT DALAM KERUKUNAN – 1

Februari 18, 2009

Indahnya Kerukunan

Maz. 133: 1 “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!“

Saya percaya bahwa setiap orang senang dengan apa yang baik dan indah. Siapa pun manusianya; pintar atau bodoh, baik atau jahat. Meskipun kadang-kadang kebaikan dan keindahan itu bisa menjadi relatif ketika berhadapan dengan etika, norma, adat dan kebiasaan. Paling tidak seorang yang jahat pun akan menginginkan yang baik dan indah bagi dirinya dan keluarganya sendiri.

Pemazmur melihat bahwa ada kebaikan dan keindahan dalam suatu kerukunan, oleh karena itu setiap orang diajak untuk hidup dalam kerukunan. Kalau kita membuat suatu alur atau flow, maka bisa kita gambarkan bahwa ending dari proses ini adalah kebaikan dan keindahan, yang dihasilkan dari sebuah kerukunan, sedang kerukunan adalah hasil kontribusi sikap dan tindakan yang baik dari dua atau lebih orang/pihak.

Ajakan hidup dengan rukun di dasari adanya dua atau lebih pihak dalam suatu komunitas sehingga diperlukan sikap dan tindakan yang baik untuk menciptakan kerukunan diantara mereka. Jadi kerukunan tidak tercipta begitu saja secara tiba-tiba tapi merupakan andil dari orang-orang yang termasuk dalam suatu komunitas itu.

Sikap yang paling mendasar untuk menciptakan suatu kerukunan adalah melihat kepentingan bersama lebih utama dari kepentingan pribadi, saling memahami dan menghormati antara satu dengan yang lain. Sikap ini yang perlu dimiliki setiap orang. Sebaliknya apabila ada pihak-pihak yang mementingkan diri sendiri, tidak mau berusaha memahami orang lain sehingga dengan mudah memfonis/menghakimi, tidak mau menghormati orang lain dan mau menang sendiri akan menciptakan pertikaian atau permusuhan dan mungkin juga chaos.

Kepentingan diri sendiri yang dimaksud tidak melulu dilihat dari segi materi tapi juga kehormatan. Bukan hanya karena “gila” materi seseorang bisa jatuh ke dalam dosa tetapi juga “gila” hormat. Maka tidaklah mengherankan apabila dalam persekutuan, keluarga bahkan gereja, ada yang memiliki sikap negatif seperti disebutkan diatas akan menghasilkan pertikaian/permusuhan dan atau perpecahan.

Bukan berarti tidak ada perbedaan yang mungkin menghasilkan “kerikil-kerikil” permasalahan dalam suatu komunitas, tapi kalau perbedaan dikomunikasikan dengan baik dengan sikap terbuka dan rendah hati serta mendasarkan pada kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bersama, maka pasti akan menghasilkan kesepakatan yang baik dan menguntungkan bersama. Istilahnya “conflict of ideas” itu biasa asal jangan “conflict of interest”.

In Him, St.LH

JANGAN CONTOH MONYET AFRIKA

Februari 17, 2009

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3: 13) Mungkin ada yang pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika, Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika. Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya, agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet- monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok,bisa ? Tentu kita bisa menduga jawabannya. Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana! Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang. Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melngampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit kepahitan yang akut. Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun. Shalom, Handoko Sumber: Milis SSK

KUASA KEHADIRAN ALLAH

Februari 10, 2009

Ketika Allah membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, Dia menyuruh mereka membuat Tabut yang terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas. Tubut ini akan menjadi lambang kehadiran Tuhan ditengah-tengah umat Israel. Melalui adanya Tabut, disana Allah akan berbicara kepada umat Israel dan menyatakan kuasa-Nya.

 

Selama ada Tabut Perjanjian ada ditengah-tengah mereka, mereka menikmati kuasa kehadiran Allah :  Ketika menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:7), meruntuhkan kota Yeriko (Yos. 6) dan memukul kalah musuh-musuh dalam perjalanan ke Kanaan.

 

Namun setelah lama mereka di Tanah Kanaan yang melimpah susu dan madu itu, pada jaman Elia dan Samuel dipanggil oleh Tuhan menjadi imam, orang Israel telah lama kembali pada kebiasaan lama yaitu menjauh dari Tuhan. Maka mereka terpukul kalah oleh orang Filistin. Saat itulah mereka teringat kembali kepada Tabut Perjanjian. Hal yang sama seringkali terjadi ditengah-tengah umat Tuhan. Ketika hidup berkecukupan bahkan mungkin berkelimpahan, mereka melupakan Tuhan. Sampai kemudian pencobaan datang, baru ingat kembali kepada Tuhan.

 

1 Samuel 4 mengisahkan Israel dikalahkan oleh orang Filistin lalu orang Israel mengingat Tabut Perjanjian dan membawanya dari Silo ke perkemahan. Tetapi kehadiran Tabut ditengah-tengah mereka tidak membawa kemenangan kepada mereka seperti yang dulu-dulu. Mereka terpukul kalah oleh orang Filistin bahkan Tabut itu dibawa oleh orang Filistin. Mengapa terjadi demikian? Karena mereka telah lama melupakan Tabut itu. Mereka tidak dapat dengan mudah mengimani arti kehadiran Tabut Perjanjian itu ditengah-tengah mereka. Seperti itu juga umat Tuhan, apabila sudah lama melupakan persekutuannya dengan Tuhan, maka tidak mudah lagi baginya untuk membangun persekutuan yang indah dengan Tuhan. Maka tidak heran kita menemukan orang yang bolak-balik bersaksi bahwa dirinya lemah dan jauh dari Tuhan, tapi setelah bersaksi, tidak ada perubahan dalam dirinya. Tidak ada kebangunan rohani. Oleh karena itu janganlah melupakan persekutuan dengan Tuhan.

 

 1 Samuel 5 selanjutnya dikisahkan bahwa orang Filistin menempatkan Tabut duduk sejajar di Kuil dengan patung dewa Dagon. Tatapi patung dewa Dagon terjatuh sampai terbelah. Artinya bahwa Allah tidak dapat disejajarkan dengan ilah-ilah atau dewa-dewa. Bahkan Allah menghajar orang Filistin dengan borok dan hama tikus karena perlakuan mereka mensejajarkanNya dengan dewa Dagon. Jaman sekarang tidak sedikit orang yang menyebut diri Kristen telah mensejajarkan Tuhan dengan ilah-ilah jaman. Kekayaan, Pekerjaan dll telah menjadi ilah-ilah jaman ini. Manusia tidak lagi bergantung kepada Tuhan tetapi bergantung kepada pekerjaannya dan kekayaannya.

 

Pada 1 Samuel 6, orang Filistin mengembalikan Tabut Perjanjian beserta emas yang berbentuk borok-borok dan emas berbentuk tikus sebagai membayar tebusan salah.

 

Kira-kira 2000 tahun yang lalu, Yesus kembali membawa kehadiran Allah ditengah-tengah umat Manusia. Tabut Perjanjian adalah gambaran dari Tuhan Yesus. Pada Tabut terdapat dua patung malaikat pada kedua ujungnya, diantara tutup pendamaian (Kel. 25). Bandingkan ketika Maria pergi ke kuburan Yesus yang telah tersalib dan mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah, ia menemukan dua orang malikat pada kedua ujung pembaringan mayat Yesus. Satu orang malaikat dibagian kepala, dan satu lagi dibagian kaki. (Yoh. 20:11-12).

 

Dalam Ibrani 9:4 disebutkan isi dari Tabut Perjanjian yaitu:

 

  1. Buli-buli emas berisi manna ; Manna berbicara tentang kebutuhan jasmani yang dikirim Allah (Kel. 16). Kecukupan kebutuhan Jasmani yang disedikan Allah bagi orang yang percaya kepada Yesus.

 

  1. Tongkat Harun yang pernah bertunas karena orang lewi dan pemimpin orang Israel memberontak kepada Musa dan Harun . (Bil. 16&17). ; berbicara tentang muzijat yang berlaku dalam diri Yesus. Kehidupan yang mengalahkan kematian. Yesus mati karena pemberontakan manusia kepada Allah. Dan Yesus telah mengalami kematian supaya manusia yang berontak itu memiliki hidup.

 

  1. Loh-loh batu. Loh bertuliskan 10 hukum Allah. (Ul. 10:1-5) ; Berbicara bahwa dalam Yesus adalah firman yang menuntun dan yang menghidupkan. Mengenal Yesus lewat firman maka kita akan mengenal Allah dengan segala maksud-Nya bagi kita (band. Yohannes pasal 1).

  

Kalau kita memiliki Yesus berarti ada kehadiran Allah di dalam hidup kita. Dan kuasa kehadiran Allah itu dapat kita nikmati sepanjang kita terus percaya kepada-Nya. Tuhan memberkati